Itsar, akhlaq mulia dan luhur

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri.Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. 59:9)

Itsar adalah salah satu akhlaq mulia dan luhur, ia merupakan salah satu
sifat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sehingga Allah menyebut
beliau sebagai ‘ala khuluqin ‘adzim, senantiasa berada di atas akhlaq
yang luhur. Maka tidak mengherankan jika para shahabat yang merupakan
hasil didikan dan gemblengan beliau menjadi manusia-manusia pilihan.
Sehingga sejarah kemanusiaan rasanya sulit sekali dapat melahirkan
manusia-manusia semisal mereka.

Hal itu sangatlah berbeda jauh dengan realita kehidupan di masa kini,
dimana egoisme, individualisme, mau menang sendiri dan tidak memikirkan
orang lain benar-benar telah melanda sebagian besar umat manusia, tak
terkecuali umat Islam pun banyak yang terkena virus ini. Asalkan
dirinya telah kaya raya, dapat menumpuk harta, hidup serba enak dan
kecukupan, maka sudah cukup, itulah kira-kira prinsip mereka. Orang
lain susah, tetangga kelaparan, miskin dan menderita itu urusan mereka
sendiri, tidak ada urusan dengan dirinya. Jangankan sampai ke tingkat
itsar, sekedar sedikit membantu atau meringankan beban saja terkadang
enggan, alasannya karena harta yang didapat adalah hasil kerja dan
usahanya sendiri, sehingga sayang kalau diberikan dengan percuma dan
cuma-suma kepada orang lain. “Enak saja, saya yang bekerja mengapa
orang lain ikut-ikutan menik-matinya,” demikian kira-kira ungkapan yang
mungkin keluar dari mereka. Sungguh memprihatinkan memang.

Maka membuka kembali lembar kehidupan para shahabat yang menggambarkan
sikap pengorbanan, mendahulukan orang lain dan mengalah adalah sangat
perlu bagi kita, apalagi ketika krisis dan kemiskinan tengah melanda
bangsa kita seperti saat ini. Dari mereka dan juga para ulama, kita
akan mendapatkan pelajaran dan teladan yang berharga, sebagaimana
tersebut di dalam riwayat-riwayat berikut ini.

Seorang Shahabat dengan Tamunya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa suatu ketika ada
seorang tamu datang kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, seluruh
istri beliau tidak memiliki apa-apa, kecuali hanya air. Maka Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Barang siapa di antara kalian
yang mau menjamu tamu ini, maka Allah akan merahmatinya.” Seorang
laki-laki kaum Anshar berdiri dan berkata, “Saya akan menjamunya wahai
Rasulullah.” Maka diajaknya tamu tersebut ke rumahnya. Sesampai di
rumah dia berkata kepada istrinya, “Apakah engkau masih memiliki
sesuatu? Sang istri menyahut, “Tidak, selain sedikit jatah buat anak
kita.” Maka diapun berkata kepada istrinya, “Bujuk dan iming-imingi
anak-anak dengan sesuatu, kemudian apabila tamu kita masuk rumah
matikanlah lampu dan buatlah kesan, bahwa kita juga sedang makan.
Apabila nanti tamu sudah siap makan, maka kamu segera mematikan lampu
tersebut. Berkata perawi, “Mereka sekeluarga hanya duduk-duduk saja
(tidak makan), sedangkan tamunya makan. Lalu pada pagi harinya orang
tersebut datang kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, Nabi
bersabda, “Allah heran dengan tingkah kalian berdua terhadap tamu
kalian tadi malam,” maka Allah menurunkan ayat (QS. Al Hasyr ayat 9).
(HR. Al Bukhari dan Muslim)

Kisah Sa’ad bin ar-Rabi’ dengan Abdur Rahman bin Auf

Abdur Rahman bin Auf mengisahkan, “Ketika kami sampai di Madinah,
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mempersaudarakan aku dengan Sa’ad
bin ar Rabi’, maka Sa’ad bin ar Rabi’ mengatakan, “Sesungguhnya aku
adalah orang Anshar yang paling kaya, maka aku akan bagikan untukmu
separuh hartaku, dan silakan kau pilih mana di antara dua istriku yang
kau inginkan, maka akan aku lepaskan dia untuk engkau nikahi. Perawi
mengatakan, “Abdur Rahman berkata, “Tidak usah, aku tidak membutuhkan
yang demikian itu.” (HR al Bukhari dan Muslim, lafal hadits milik al
Bukhari)

Umar Ibnul Khaththab dengan saudaranya Zaid Ibnul Khaththab

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umarzdia berkata, “Umar bin Khaththab
berkata kepada saudaranya Zaid Ibnul Khaththab pada waktu perang Uhud,
“Aku bersumpah agar kamu mau memakai baju besiku ini, maka Zaid pun
memakai baju besi itu namun ia melepaskannya lagi. Maka Umar berkata
kepadanya, “Ada apa denganmu (mengapa kau lepas)?” Maka zaid menjawab,
“Aku menghendaki terhadap diriku sebagaimana yang engkau kehendaki
terhadap dirimu.” (HR Ibnu Sa’d dan ath Thabrani dalam al Ausath)

Tiga Shahabat Menjelang Naza’

Dari Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit,
keduanya menceritakan, “Telah syahid pada perang Yarmuk al-Harits bin
Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr. Mereka ketika itu
akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis, namun
kesemuanya saling menolak. Ketika salah satu dari mereka akan diberi
minum dia berkata, “Berikan dahulu kepada si fulan”, demikian
seterusnya sehingga semuanya meninggal dan mereka belum sempat meminum
air itu. Dalam versi lain perawi menceritakan, “Ikrimah meminta air
minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah
berkata, “Berikan air itu kepadanya.” Dan ketika itu Suhail juga
melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, “Berikan air
itu kepadanya (al Harits). Namun belum sampai air itu kepada al Harits,
ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut
(sedikitpun). (HR Ibnu Sa’ad dalam ath Thabaqat dan Ibnu Abdil Barr
dalam at Tamhid, namun Ibnu Sa’ad menyebutkan Iyas bin Abi Rabi’ah
sebagai ganti Suhail bin Amr)

Abu Thalhah dengan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Abu Thalhah pada perang Uhud
menjadi pasukan panah dengan posisi di depan Nabi Shalallaahu alaihi
wasalam, dia memang seorang yang ahli memanah. Apabila Abu Thalhah
memanah maka Rasulullah memperhatikan kemana sasaran anak panahnya
mengena. Maka Abu Thalhah mengangkat dadanya (untuk melindungi Nabi)
seraya berkata, “Begini wahai Rasulullah, supaya engkau tidak terkena
sasaraan panah musuh, biarlah yang terkena adalah leherku bukan
lehermu.”(HR Ahmad dan selainnya, sanadnya shahih)

Hadiah Kembali Kepada si Pemberi

Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu berkata, “Salah seorang dari shahabat
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam diberi hadiah kepala kambing, dia lalu
berkata, “Sesungguhnya fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini
daripada kita.” Ibnu Umar mengatakan, “Maka ia kirimkan hadiah tersebut
kepada yang lain, dan secara terus menerus hadiah itu di kirimkan dari
satu orang kepada yang lain hingga berputar sampai tujuh rumah, dan
akhirnya kembali kepada orang yang pertama kali memberikan.” (Riwayat
al Baihaqi dalam asy Syu’ab 3/259)

Ibnu Umar dan Pengemis

Nafi’ maula (klien) Ibnu Umar meriwayatkan, “Ibnu Umar suatu ketika
sakit, dia sangat menginginkan anggur pada awal musimnya. Maka dia
mengutus Shafiyah (istrinya) dengan membawa satu dirham untuk membeli
anggur segar. Ketika pelayan (utusan) mengantarkan anggur, dia diikuti
oleh seorang pengemis. Setelah sampai di pintu rumah, maka utusan
masuk. Dari luar berkata pengemis, “Ada pengemis.” Maka Ibnu Umar
berkata, “Berikan anggur itu kepadanya.” Maka utusan itu memberikan
anggur tersebut kepada si pengemis.(HR al Baihaqi dalam asy Syu’ab
3/260). Dan demikian itu terulang hingga dua kali, sehingga Shafiyah
meminta agar pengemis itu tidak kembali lagi untuk ketiga kalinya.

Ummul Mukminin Aisyah Radhiallaahu anha dan Orang Miskin

Anas bin Malik meriwayatkan dari Aisyah Radhiallaahu anha, bahwa ada
seorang miskin meminta-minta kepadanya padahal dia sedang berpuasa,
sementara di rumahnya tidak ada makanan selain sekerat roti kering,
berkata Aisyah kepada pembantunya, “Berikan roti itu kepadanya,” si
pembantu menyahut, “Anda nanti tidak memiliki apa-apa untuk berbuka
puasa. Maka beliau berkata lagi, “Berikan roti itu kepadanya.” Perawi
mengatakan, “Maka pembantu itu melakukannya, dan dia berkata, “Belum
menjelang sore ada salah satu dari keluarga Nabi, atau seseorang yang
pernah memberi hadiah mengantarkan daging kambing (masak) yang telah ia
bungkus. Maka beliau memanggilku dan berkata, “Makanlah engkau, ini
lebih baik daripada rotimu tadi.” (HR Malik dalam al Muwaththa’ 2/997)

Bersama Para Salaf.

Al-Haitsam bin Jamil meriwayatkan bahwa Fudhail bin Marzuq datang
kepada al Hasan bin Huyaiy karena ada kebutuhan yang sangat mendesak,
sedangkan dia tidak punya apa-apa. Maka al Hasan memberikan enam dirham
dan dia memberitahukan, bahwa ia tidak memiliki selain itu. Maka
Fudhail berkata, “Subhanallah, Saya mengambil semuanya sedangkan engkau
tidak punya yang lain?” Namun al Hasan enggan mengambil semua nya, dan
Fudhail juga enggan. Akhirnya dinar itu dibagi dua, dia ambil tiga
dinar dan dia tinggalkan tiga dinar. (Tahdzib al Kamal 23/308)

Diriwayatkan dari Yahya bin Hilal al Warraq dia berkata, “Saya datang
kepada Muhammad bin Abdullah bin Numair untuk mengadukan sesuatu
kepadanya, maka dia mengeluarkan empat atau lima dirham seraya berkata,
“Ini separuh harta yang ku miliki. Dan dalam kesempatan lain aku
mendatangi Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, dia mengeluarkan empat dirham
dan berkata, “Ini keseluruhan yang aku miliki.” (riwayat Ibnul Jauzi
dalam Manaqib Imam Ahmad hal 320)

Dari Aun bin Abdullah dia berkata, “Seseorang yang sedang berpuasa
berteduh, ketika menjelang berbuka seorang pengemis datang kepadanya,
ketika itu dia memiliki dua potong kue. Maka salah satunya diberikan
kepada si pengemis, namun sejenak ia berkata, “Sepotong tidaklah
membuatnya kenyang, dan sepotong lagi tidak membuatku kenyang, maka
kenyang salah satu lebih baik daripada kedua-duanya lapar.” Akhirnya ia
berikan yang sepotong lagi kepada si pengemis. Kemudian ketika tidur
dia bermimpi didatangi seseorang dan berkata, “Mintalah apa saja yang
kau kehendaki.” Dia menjawab, “Aku minta ampunan. Orang tersebut
berkata, “Allah telah melakukan itu untukmu, mintalah yang lain lagi!”
Dia berkata, “Aku memohon agar orang-orang mendapatkan pertolongan.”
(riwayat ad Dainuri dalam al Mujalasah 3/47)
Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Kutaib “Mawaaqif min Itsar as-Shahabah was salafus shaleh” al-Qism al-Ilmi Darul Wathan,)

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *